Mengenai Saya

Foto saya
Semua orang bisa menjadi Guru dan semua orang bisa menjadi Murid.

Senin, 26 Januari 2026

Tata Upacara Baru di Sekolah Tahun 2026

 




Kabar penting bagi dunia pendidikan Indonesia. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, baru saja mengeluarkan instruksi terbaru terkait pelaksanaan upacara bendera di sekolah-sekolah.

Melalui Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2026, pemerintah ingin kembali menggiatkan upacara bendera sebagai sarana penguatan karakter dan nasionalisme siswa. Apa saja poin-poin perubahannya? Berikut ringkasannya untuk Bapak/Ibu Guru, Orang Tua, dan Siswa.


1. Wajib Upacara Setiap Senin Pagi

Sesuai arahan Presiden RI, Mendikdasmen menginstruksikan seluruh Kepala Dinas Pendidikan (Provinsi dan Kabupaten/Kota) untuk memastikan sekolah-sekolah melaksanakan upacara bendera pada pagi hari setiap hari Senin. Tujuannya jelas: membangun jiwa patriotisme dan kedisiplinan sejak dini.


2. Pembacaan "Ikrar Pelajar Indonesia"

Ini adalah hal baru yang perlu dicatat. Dalam rangka penyeragaman janji siswa, sekolah kini diwajibkan membacakan Ikrar Pelajar Indonesia saat upacara.

Ikrar ini dibacakan setelah pembacaan naskah Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Berikut adalah isi lengkap ikrar tersebut yang sangat ringkas namun bermakna mendalam:

Ikrar Pelajar Indonesia

Kami Pelajar Indonesia, berikrar untuk: 1. Belajar dengan baik; 2. Menghormati orang tua; 3. Menghormati guru; 4. Rukun sama teman; dan 5. Mencintai tanah air Indonesia.




3. Menyanyikan Lagu "Rukun Sama Teman"

Selain lagu wajib nasional, ada tambahan lagu baru yang harus dinyanyikan peserta upacara, yaitu lagu berjudul "Rukun Sama Teman".

Lagu ini dinyanyikan setelah lagu wajib nasional selesai. Pihak sekolah dapat mengunduh atau mendengarkan materi lagu tersebut melalui tautan resmi: s.id/lagurukunsamateman.


Mengapa Aturan Ini Dibuat?

Surat Edaran yang ditandatangani di Jakarta pada 23 Januari 2026 ini didasari oleh berbagai landasan hukum, termasuk peraturan terbaru mengenai Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (Permendikdasmen No. 6 Tahun 2026).

Poin-poin dalam "Ikrar Pelajar" dan lagu "Rukun Sama Teman" tampaknya dirancang khusus untuk mengatasi isu-isu perundungan (bullying) dan kenakalan remaja dengan menekankan rasa hormat kepada orang tua/guru serta kerukunan antar teman.

 

Mari kita dukung pelaksanaan aturan baru ini demi menciptakan lingkungan sekolah yang lebih positif dan berkarakter!

Demikian semoga bermanfaat!


Unduhan 

SE Mendikdasmen No 4 Tahun 2026

PPT


Video Penjelasan 

 

Selasa, 20 Januari 2026

Terobosan Penting dalam Budaya Sekolah Aman dan Nyaman 2026?

 


Sebagai orang tua atau praktisi pendidikan, kita sering kali terjebak dalam rasa cemas yang sama: apakah anak-anak kita benar-benar terlindungi saat berada di balik gerbang sekolah? Di era transformasi teknologi ini, ancaman keselamatan tidak lagi hanya berupa benturan fisik di lapangan sekolah, melainkan meluas ke perundungan siber (cyberbullying) hingga eksploitasi data pribadi.

Menjawab kegelisahan tersebut, pemerintah melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 melakukan reposisi fundamental. Regulasi ini bukan sekadar revisi atas aturan pencegahan kekerasan sebelumnya, melainkan sebuah lompatan besar yang menggeser paradigma dari "penanganan insiden" menuju pembangunan "budaya" yang menyeluruh. Aman tidak lagi didefinisikan secara sempit sebagai ketiadaan kekerasan, namun sebagai pemenuhan kebutuhan spiritual, fisik, psikologis, hingga keadaban digital secara berkelanjutan.

Berikut adalah lima terobosan strategis yang akan mengubah wajah pendidikan Indonesia mulai tahun 2026.

Keadaban Digital: Mandat Hukum untuk Perlindungan di Ruang Maya

Dunia digital bukan lagi sekadar alat bantu belajar, melainkan ruang hidup murid yang memiliki risiko nyata. Melalui Pasal 7, regulasi ini menegaskan bahwa keamanan digital bukan lagi sebuah pilihan opsional bagi sekolah, melainkan kewajiban hukum yang mandatary. Sekolah kini memikul tanggung jawab legal untuk menjamin data pribadi murid terlindungi dan literasi digital diperkuat untuk menangkal hoaks serta kejahatan siber.

Sebagai analis kebijakan, saya melihat ini sebagai langkah krusial. Keamanan digital kini diletakkan sebagai pilar utama lingkungan belajar yang kondusif, sejajar dengan keamanan fisik. Tanpa proteksi data yang kuat (Pasal 7 poin c), sekolah gagal menjalankan fungsinya sebagai ruang aman bagi generasi alfa.

Pasal 7 Keadaban dan keamanan digital yang aman dan nyaman mencakup: a. penerapan dan pembiasaan adab dan etika dalam berinteraksi di ruang digital; b. penguatan literasi digital bagi Warga Sekolah untuk menangkal informasi bohong dan konten negatif serta ancaman kekerasan dan kejahatan siber; dan c. pelindungan data pribadi Warga Sekolah dalam proses pembelajaran.

Restorasi Keadilan: Menjamin Hak Pendidikan Melalui Penanganan Kolaboratif

Terobosan paling humanis dalam regulasi ini terletak pada Pasal 23 dan Pasal 26. Pemerintah secara tegas memperkenalkan Penanganan Pelanggaran Kolaboratif. Pendekatan ini merupakan ejawantah dari Asas Humanis (Pasal 2), yang mengakui bahwa setiap individu adalah manusia bermartabat yang berhak diperlakukan tanpa kekerasan, bahkan saat melakukan kesalahan.

Analisis strategisnya jelas: hukuman disiplin tradisional yang bersifat memutus hubungan murid dengan sekolah sering kali gagal memperbaiki perilaku dan justru menciptakan dendam sosial. Regulasi ini merekonstruksi cara kita melihat pelanggaran dengan fokus pada:

• Menjamin Pelindungan: Memberikan keamanan instan bagi korban dari segala bentuk ancaman atau bahaya.

• Mengedukasi Pelanggar: Menanamkan tanggung jawab atas kesalahan tanpa meruntuhkan martabat murid.

• Memulihkan Lingkungan: Menata kembali keharmonisan hubungan antarwarga sekolah.

• Mempertahankan Hak: Menjamin bahwa proses disiplin tidak boleh mengakibatkan terputusnya hak pendidikan murid (Pasal 26).

Revolusi Peran Orang Tua: Mengapa "Kelas Orang Tua" Kini Jadi Kunci Karakter Anak

Regulasi ini merekonstruksi peran orang tua dari sekadar "konsumen" jasa pendidikan menjadi pilar pengawasan sosiokultural yang strategis. Melalui Pasal 36, sekolah dan rumah diwajibkan untuk berada dalam "frekuensi" yang sama.

Salah satu inovasi penting adalah mandat "Kelas Orang Tua". Ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan alat proaktif untuk penyelarasan pola pengasuhan. Fondasi karakter yang dibangun di sekolah tidak akan pernah kokoh jika bertolak belakang dengan nilai di rumah. Dengan keterlibatan aktif ini, orang tua tidak lagi menjadi penonton pasif, melainkan mitra strategis yang memastikan keberlanjutan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari anak.

"Pokja": Profesionalisasi Krisis Melalui Sinergi Lintas Sektor

Salah satu hambatan terbesar penanganan kasus di sekolah selama ini adalah birokrasi yang lamban dan kurangnya keahlian hukum atau psikososial. Pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) berdasarkan Pasal 28 hingga Pasal 32 adalah sebuah game changer.

Pokja ini bukan sekadar tim administratif, melainkan mesin penggerak yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah dan melibatkan secara spesifik Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) serta Kepolisian RI. Langkah ini merupakan bentuk profesionalisasi manajemen krisis di lingkungan pendidikan. Pokja memiliki mandat strategis untuk:

• Menyediakan layanan pendampingan hukum dan advokasi.

• Memfasilitasi bantuan kesehatan dan konseling psikososial secara profesional.

• Menjamin kerahasiaan identitas korban dan pelapor secara ketat (Pasal 31).

Kontrol Sosial dan Kearifan Lokal: Desa sebagai Benteng Sekolah

Mengadopsi filosofi "It takes a village to raise a child," Pasal 38 memberikan ruang bagi masyarakat dan pemerintah desa untuk terlibat aktif. Regulasi ini mengakui bahwa keamanan murid tidak berakhir di gerbang sekolah.

Analisis mendalam terhadap Pasal 38 ayat (3) menunjukkan sebuah langkah cerdik dalam menghormati otonomi daerah: pemberian sanksi sosial atau administratif bagi perilaku menyimpang di sekitar sekolah kini dapat disesuaikan dengan kearifan lokal. Hal ini memastikan bahwa aturan yang berlaku memiliki legitimasi sosial yang kuat karena berakar pada nilai-nilai masyarakat setempat, menjadikan desa sebagai pelindung alami bagi ekosistem pendidikan.

Pasal 38 ayat (3) Kesepakatan bersama paling sedikit memuat: ... c. sanksi sosial atau administratif yang bersifat edukatif, tidak diskriminatif, tidak melanggar hak anak, serta disepakati bersama sesuai dengan kearifan lokal dan peraturan perundang-undangan.

Menuju Ekosistem Belajar yang Memanusiakan Manusia

Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 adalah sebuah undangan terbuka bagi kita semua untuk membangun masa depan pendidikan yang lebih bermartabat. Regulasi ini bukan sekadar tumpukan aturan teknis, melainkan visi untuk menciptakan ekosistem yang cerdas secara akademik sekaligus dewasa secara emosional dan sosial.

Keberhasilan aturan ini tidak hanya bergantung pada tanda tangan pejabat, melainkan pada keberanian kita—guru, orang tua, dan masyarakat—untuk berkolaborasi secara nyata. Inilah saatnya kita bertransformasi menjadi pelindung bagi tumbuh kembang fisik, kognitif, dan spiritual anak-anak kita.

Sudahkah kita siap menjadi bagian dari budaya baru yang memuliakan martabat setiap murid di sekitar kita?

Semoga bermanfaat.
Unduh

Mengupas Perisai Perlindungan Guru dalam Permendikdasmen No. 4 Tahun 2026

 



Pernahkah Anda membayangkan seorang guru yang ragu menegur siswanya karena bayang-bayang somasi? Atau tenaga kependidikan yang merasa waswas menjalankan tugas administratif karena tekanan dari pihak luar? Realita ini bukan sekadar cerita fiksi, melainkan keresahan kolektif yang selama ini menghantui ruang-ruang kelas kita. Rasa tidak aman saat mengajar adalah beban mental yang secara perlahan mengikis kualitas pendidikan nasional.

Kini, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah merilis Permendikdasmen No. 4 Tahun 2026. Peraturan ini bukan sekadar dokumen birokrasi biasa, melainkan sebuah "perisai" hukum yang dirancang untuk menjamin keamanan, profesionalisme, dan martabat Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) di seluruh jenjang, mulai dari PAUD, Pendidikan Dasar (Dikdas), hingga Pendidikan Menengah (Dikmen). Ini adalah babak baru di mana negara hadir secara konkret untuk memastikan para pahlawan pendidikan tidak lagi berjuang sendirian.


Menjaga Martabat: Kebebasan Akademik di Era Kurikulum Merdeka

Perlindungan yang ditawarkan regulasi ini melampaui aspek fisik. Salah satu pilar fundamentalnya adalah Perlindungan Profesi, yang mencakup martabat, kebebasan akademik, dan kepastian karier.

Dalam konteks Kurikulum Merdeka saat ini, kebebasan akademik adalah jantung dari inovasi. Seorang guru tidak akan mungkin berani mengeksplorasi metode pembelajaran yang fleksibel dan kreatif jika mereka dibayangi rasa takut akan hambatan karier yang tidak adil atau persekusi profesional. Perlindungan ini memastikan bahwa ruang kelas tetap menjadi laboratorium pemikiran yang merdeka.


"Guru Aman -> Pendidikan Bermutu"

Kausalitasnya jelas: hanya pendidik yang merasa aman dan dihormati yang mampu mencurahkan seluruh energi intelektualnya untuk melahirkan generasi unggul.

Mengakui Intelektualitas: Perlindungan HaKI sebagai Modalitas Pembangunan

Sering kali, karya kreatif guru seperti modul ajar, metode pembelajaran unik, hingga karya tulis inovatif dianggap sebagai komoditas administratif belaka yang bebas digunakan tanpa apresiasi. Permendikdasmen No. 4 Tahun 2026 mengubah paradigma ini melalui pilar Perlindungan HaKI (Hak Kekayaan Intelektual).

Negara akhirnya mengakui bahwa intelektualitas guru adalah modalitas penting pembangunan. Dengan adanya perlindungan terhadap hak cipta dan inovasi, ekosistem seperti Platform Merdeka Mengajar (PMM) akan semakin subur. Para guru kini memiliki jaminan hukum bahwa karya mereka dilindungi oleh negara, mendorong semangat untuk terus berbagi praktik baik tanpa khawatir akan plagiarisme atau penyalahgunaan karya.


Sekolah sebagai Ruang Profesional yang Aman: Standar Baru K3

Melalui pilar Perlindungan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), sekolah kini secara formal dipandang sebagai lingkungan kerja profesional yang harus memenuhi standar keselamatan layaknya industri modern. Hal ini mencakup mitigasi terhadap risiko kecelakaan kerja dan bencana.

Penerapan K3 ini berarti sekolah wajib memiliki standar operasional prosedur (SOP) mitigasi yang jelas. Dengan menempatkan keselamatan PTK sebagai prioritas, negara memastikan bahwa sekolah bukan hanya tempat yang nyaman bagi siswa untuk belajar, tetapi juga lingkungan kerja yang sehat, aman, dan manusiawi bagi seluruh tenaga kependidikan.


Perisai Hukum: Akuntabilitas dan Praduga Tak Bersalah

Salah satu poin paling krusial dalam regulasi ini adalah pemberian Perlindungan Hukum yang komprehensif terhadap kekerasan, intimidasi, dan diskriminasi. Namun, kekuatannya terletak pada tiga prinsip utama: Non-diskriminatif, Akuntabel, dan Praduga Tak Bersalah (Presumption of Innocence).

Prinsip "Akuntabel" memastikan bahwa setiap proses hukum atau pengaduan harus transparan dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga tidak ada ruang bagi "hukum rimba" di lingkungan sekolah. Sementara itu, prinsip "Non-diskriminatif" menjamin bahwa perlindungan ini berlaku mutlak bagi seluruh PTK tanpa memandang status. Dengan landasan "Praduga Tak Bersalah", guru diberikan hak untuk membela diri dan mendapatkan proses yang adil, mencegah terjadinya kriminalisasi sepihak yang sering kali merugikan nama baik pendidik.


Mekanisme Satgas: Wujud Nyata Kehadiran Negara

Agar aturan ini tidak berhenti sebagai macan kertas, negara menyiapkan mekanisme perlindungan yang terstruktur. Kolaborasi ini melibatkan Satgas (Satuan Tugas) di tingkat Kementerian, Pemerintah Daerah (Pemda), hingga Organisasi Profesi. Alur perlindungannya dibuat sederhana namun kuat:

1. Konsultasi: Ruang awal bagi PTK untuk mengadukan keresahan atau ancaman yang dihadapi.

2. Mediasi: Upaya penyelesaian masalah secara dialogis untuk mencapai solusi damai yang bermartabat.

3. Pendampingan: Dukungan moral dan teknis bagi PTK selama menghadapi konflik atau masalah profesi.

4. Bantuan Hukum: Advokasi formal dan bantuan litigasi jika permasalahan harus menempuh jalur hukum.


Menuju Pendidikan yang Lebih Manusiawi

Permendikdasmen No. 4 Tahun 2026 adalah pesan tegas bahwa negara berdiri tegak di belakang para pendidik dan tenaga kependidikan kita. Dengan terjaminnya aspek Hukum, Profesi, K3, dan HaKI, kita sedang membangun fondasi pendidikan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sehat secara mental dan sosial.

Kini, ketika negara telah memberikan jaminan perlindungan, sebuah refleksi mendalam kembali kepada kita semua: Bagaimana ketenangan jiwa dan rasa aman yang kini dimiliki guru akan mengubah kehangatan interaksi di dalam kelas, dan sejauh mana hal itu akan membangkitkan binar mata belajar anak-anak kita?


Demikian semoga bermanfaat.

Silahkan diunduh!

Permendikdamen No 4 Tahun 2026

Video Penjelasan

Senin, 12 Januari 2026

Wajah Baru Standar Proses 2026

 





Bayangkan sebuah ruang kelas di mana belajar bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan sebuah perjalanan yang penuh makna. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 1 Tahun 2026, pemerintah Indonesia tengah melukiskan standar baru tentang bagaimana seharusnya proses belajar-mengajar berlangsung di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga sekolah menengah.


Roh Pembelajaran: Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan

Landasan utama dari aturan baru ini adalah keinginan untuk memanusiakan murid. Proses belajar kini tidak hanya mengejar angka, tetapi dirancang untuk menyentuh seluruh aspek kemanusiaan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara terpadu. Ada tiga prinsip utama yang ditekankan:

  1. Berkesadaran: Murid diajak memahami mengapa mereka belajar, sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan memiliki motivasi internal.

  2. Bermakna: Pelajaran tidak berhenti di buku teks, melainkan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata dan dihubungkan dengan berbagai bidang ilmu.

  3. Menggembirakan: Sekolah harus menjadi tempat yang positif, menantang, namun tetap menyenangkan bagi anak-anak.


Perencanaan yang Terfokus

Setiap guru kini memiliki peran krusial sebagai perancang pengalaman. Perencanaan pembelajaran tidak lagi sekadar tumpukan dokumen administratif yang rumit, melainkan dokumen ringkas yang memuat tiga hal esensial: apa tujuan belajarnya, bagaimana cara mencapainya (langkah pembelajaran), dan bagaimana cara mengukurnya (penilaian). Semuanya disusun dengan mempertimbangkan karakteristik unik setiap murid dan sumber daya yang dimiliki sekolah.

Pelaksanaan: Lebih dari Sekadar Ceramah

Di dalam kelas, suasana yang ingin dibangun adalah suasana yang interaktif dan inspiratif. Guru bukan lagi sekadar pemberi materi, melainkan sosok yang memberikan keteladanan melalui perilaku mulia, memberikan pendampingan yang hangat, serta memfasilitasi kebutuhan belajar murid yang beragam.

Teknologi pun kini ditempatkan sebagai mitra untuk mengoptimalkan sumber daya, baik digital maupun nondigital. Bagi siswa SMK, pengalaman ini diperkuat dengan praktik kerja lapangan, sementara bagi siswa disabilitas di jenjang menengah, disediakan program magang untuk memberikan pengalaman nyata di dunia kerja.


Budaya Refleksi: Menilai untuk Tumbuh

Hal paling menarik dari peraturan ini adalah cara kita memandang penilaian. Penilaian proses bukan lagi hanya tugas searah dari guru ke murid. Sekarang, penilaian dilakukan melalui budaya refleksi yang melibatkan banyak pihak:

  • Guru melakukan refleksi diri minimal sekali setiap semester.

  • Sesama Guru saling mengamati dan berdiskusi untuk membangun budaya kolaboratif.

  • Kepala Sekolah memberikan umpan balik yang membangun.

  • Murid pun diberi ruang untuk memberikan pendapat mereka melalui survei atau catatan refleksi.


Secara keseluruhan, Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 ini bukan sekadar aturan formal, melainkan sebuah undangan bagi seluruh insan pendidikan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif. Sebuah visi di mana setiap anak Indonesia bisa tumbuh sesuai bakat dan minatnya dalam suasana yang penuh semangat dan penghargaan. 

Semoga bermanfaat.



Silahkan diunduh

Permendikdasmen No 1 Tahun 2026

Rabu, 10 Desember 2025

Supervisi Berbasis Coaching



Salam dan Bahagia!

Apa itu Supervisi berbasis Coaching untuk guru? Supervisi Guru berbasis Coaching adalah pendekatan yang menempatkan Kepala Sekolah sebagai fasilitator dan mitra bagi guru, alih-alih hanya sebagai penilai atau pengawas.

Pendekatan ini berfokus pada pengembangan profesional guru secara mandiri dan berkelanjutan, dengan menggunakan prinsip dan teknik coaching (pembinaan).

Model GROW dalam Supervisi

Model GROW terdiri dari empat tahapan utama, yang menjadi panduan bagi Kepala Sekolah (sebagai Coach) untuk berinteraksi dengan Guru (sebagai Coachee):

1. Goal (Tujuan)

Fase ini berfokus pada apa yang ingin dicapai oleh guru. Kepala Sekolah membantu guru memperjelas dan menentukan tujuan spesifik (hasil ideal) dari sesi coaching atau dari peningkatan praktik mengajarnya.

Peran Kepala Sekolah

Contoh Pertanyaan Kunci

Membantu merumuskan tujuan yang SMART (Spesifik, Terukur, Dapat Dicapai, Relevan, Waktu Terbatas).

“Apa yang ingin Anda capai di akhir sesi kita ini?”

“Indikator keberhasilan apa yang akan Anda gunakan untuk tahu bahwa tujuan ini tercapai?”

“Idealnya, seperti apa hasil dari pembelajaran yang akan datang?”

2. Reality (Kenyataan/Realita Saat Ini)

Fase ini berfokus pada situasi saat ini. Kepala Sekolah membantu guru mengeksplorasi dan menganalisis secara objektif kondisi terkini, tantangan yang dihadapi, dan sumber daya yang dimiliki.

Peran Kepala Sekolah

Contoh Pertanyaan Kunci

Mendorong refleksi mendalam dan jujur tentang situasi yang terjadi.

“Apa yang sebenarnya terjadi di kelas Anda saat ini?”

“Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi dalam mencapai tujuan tadi?”

“Sumber daya atau dukungan apa yang sudah Anda miliki saat ini?”

3. Options (Pilihan/Opsi Solusi)

Fase ini mendorong brainstorming dan eksplorasi berbagai kemungkinan solusi atau strategi untuk menutup kesenjangan antara Tujuan (G) dan Kenyataan (R).

Peran Kepala Sekolah

Contoh Pertanyaan Kunci

Mendorong pemikiran kreatif dan non-direktif.

“Apa saja pilihan yang bisa Anda ambil untuk mengatasi tantangan tersebut?”

“Jika tidak ada batasan, ide gila apa yang mungkin bisa Anda coba?”

“Dari opsi-opsi itu, mana yang paling menarik untuk Anda coba?”

4. Will / Way Forward (Keinginan/Rencana Aksi)

Fase terakhir ini mengubah opsi menjadi komitmen dan rencana aksi yang konkret. Kepala Sekolah membantu guru merumuskan langkah-langkah spesifik, kapan dan bagaimana ia akan melaksanakan rencana tersebut.

Peran Kepala Sekolah

Contoh Pertanyaan Kunci

Memastikan komitmen dan langkah-langkah yang jelas.

“Langkah pertama apa yang akan Anda ambil?”

“Kapan persisnya Anda akan mulai melaksanakan rencana ini?”

“Dukungan apa yang Anda butuhkan dari saya atau rekan lain untuk menjalankan rencana ini?”


Model GROW ini memastikan bahwa solusi berasal dari guru itu sendiri, yang meningkatkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab, sehingga perubahan yang dilakukan lebih berkelanjutan.

 

Poin Kunci Supervisi Berbasis Coaching

Berikut adalah perbandingan dan elemen-elemen penting dari supervisi berbasis coaching:

Aspek

Supervisi Tradisional

Supervisi Berbasis Coaching

Fokus Utama

Penilaian, kepatuhan, dan temuan kekurangan.

Pengembangan diri guru, pemecahan masalah mandiri, dan eksplorasi potensi.

Peran Kepala Sekolah

Pengawas, penilai, dan pemberi solusi/instruksi.

Fasilitator, pendengar aktif, dan mitra berpikir.

Metode Kunci

Observasi, checklist, dan pemberian umpan balik direktif.

Pertanyaan reflektif yang kuat, mendengarkan aktif, dan perencanaan aksi oleh guru.

Tujuan Akhir

Memastikan standar terpenuhi.

Menciptakan kesadaran, tanggung jawab, dan kemandirian guru dalam meningkatkan praktik pengajaran.

 

Tujuan Utama

Tujuan dari supervisi berbasis coaching adalah:

  • Mendorong Refleksi: Kepala Sekolah mengajukan pertanyaan yang memancing guru untuk merenungkan praktik pengajaran mereka, mengidentifikasi tantangan, dan menemukan solusi mereka sendiri.
  • Meningkatkan Kemandirian: Guru didorong untuk mengambil tanggung jawab atas pengembangan profesional mereka dan menjadi problem solver yang efektif.
  • Membangun Hubungan Positif: Menciptakan iklim kepercayaan dan kolaborasi antara Kepala Sekolah dan guru.
  • Fokus pada Potensi: Membantu guru menyadari dan memanfaatkan kekuatan serta potensi terbaik mereka.

 

Siklus Pelaksanaan (Contoh Sederhana)

Supervisi berbasis coaching biasanya melibatkan serangkaian tahapan yang bersifat kemitraan, seringkali menggunakan model coaching seperti GROW (Goal, Reality, Options, Will):

  1. Pra-Observasi (Coaching Awal)
    • Kepala Sekolah dan guru berdiskusi tentang tujuan spesifik yang ingin dicapai guru dalam pembelajaran yang akan diobservasi (Goal).
    • Guru mengidentifikasi kenyataan saat ini dan tantangan yang mungkin dihadapi (Reality).
  2.  Observasi
    • Kepala Sekolah mengamati pembelajaran di kelas dengan fokus pada tujuan yang disepakati di awal.
    • Kepala Sekolah mencatat data faktual, bukan penilaian.
  3. Pasca-Observasi (Coaching Inti)
    • Ini adalah sesi coaching formal:
      • Kepala Sekolah bertanya dan mendengarkan pandangan guru tentang pelaksanaan kelas.
      • Guru diajak mengeksplorasi pilihan atau strategi berbeda untuk perbaikan (Options).
      • Guru membuat rencana aksi yang spesifik dan berkomitmen untuk melakukannya (Will).
  4.  Tindak Lanjut
    • Guru melaksanakan rencana aksi.
    • Kepala Sekolah memberikan dukungan dan memantau kemajuan, siap untuk sesi coaching berikutnya.

Intinya, dalam pendekatan ini, Kepala Sekolah tidak memberi tahu guru apa yang harus dilakukan, melainkan membantu guru menemukan solusi terbaik bagi diri dan murid-muridnya.

 

Baik, mari kita coba simulasikan penerapan Model GROW dalam sebuah skenario supervisi berbasis coaching.

 Skenario

Guru: Ibu Rina, seorang guru Matematika kelas 7. Kepala Sekolah: Bapak Budi (sebagai Coach). Masalah (Kenyataan Awal): Ibu Rina merasa murid-muridnya kurang terlibat (pasif) dalam pembelajaran matematika, dan hasil tugas mereka menunjukkan pemahaman yang dangkal.

 

Simulasi Penerapan Model GROW

1. Goal (Tujuan)

Bapak Budi (KS): "Terima kasih Bu Rina sudah hadir. Berdasarkan observasi dan catatan yang Anda sampaikan, jika sesi coaching ini berhasil, apa hasil spesifik yang ingin Anda capai terkait dengan partisipasi dan pemahaman siswa di kelas Anda?"

Ibu Rina (Guru): "Saya ingin setidaknya 80% siswa aktif bertanya, menjawab, atau berdiskusi selama pelajaran. Dan saya ingin melihat peningkatan 15% pada nilai rata-rata tugas yang membutuhkan analisis, bukan sekadar hitungan."

Bapak Budi (KS): "Itu tujuan yang sangat jelas. Jadi, tujuan kita adalah peningkatan partisipasi aktif dan pemahaman analisis. Mari kita lanjutkan ke tahap berikutnya."

 

2. Reality (Kenyataan Saat Ini)

Bapak Budi (KS): "Saat ini, Anda mengatakan siswa kurang terlibat. Apa persisnya yang Anda lihat di kelas yang membuat Anda menyimpulkan demikian? Coba ceritakan datanya."

Ibu Rina (Guru): "Saya lihat hanya 3-4 siswa yang selalu merespons. Ketika saya bertanya kepada siswa lain, mereka diam atau menjawab seadanya. Selain itu, ketika saya menggunakan metode diskusi kelompok, hanya 1-2 anak yang bekerja, sisanya mencatat atau bermain."

Bapak Budi (KS): "Menarik. Dan, menurut pengamatan Anda sendiri, metode mengajar apa yang sudah Anda terapkan selama ini? Apa yang berhasil dan apa yang belum?"

Ibu Rina (Guru): "Saya sudah sering menggunakan presentasi, lalu memberikan latihan soal di papan tulis. Kadang saya pakai diskusi kelompok kecil, tapi seperti yang tadi saya bilang, kurang efektif. Yang berhasil, kalau saya kasih contoh soal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, mereka antusias sebentar."

 

3. Options (Pilihan Solusi)

Bapak Budi (KS): "Oke, kita punya tantangan dan sedikit petunjuk. Sekarang, mari kita eksplorasi. Apa saja pilihan atau strategi yang terpikir oleh Anda untuk membuat sisa 80% siswa itu terlibat aktif dan meningkatkan pemahaman mereka?"

Ibu Rina (Guru): "Mungkin saya harus mengurangi porsi ceramah. Saya bisa mencoba menerapkan permainan atau kuis agar lebih seru. Atau, saya bisa mencoba metode Think-Pair-Share agar setiap anak wajib berpikir dan berinteraksi. Saya juga terpikir untuk mencoba media pembelajaran visual yang lebih banyak."

Bapak Budi (KS): "Bagus sekali, Bu Rina, Anda punya tiga pilihan: permainan/kuis, Think-Pair-Share, dan media visual. Jika Anda harus memilih satu yang memiliki dampak paling cepat dan besar, pilihan mana yang paling resonan bagi Anda saat ini?"

Ibu Rina (Guru): "Saya rasa menerapkan Think-Pair-Share lebih mudah diimplementasikan besok lusa. Setiap anak dipaksa untuk berpikir sendiri, lalu berdiskusi dengan satu teman, baru kemudian kami bahas bersama. Ini akan meningkatkan keterlibatan individu."

 

4. Will / Way Forward (Rencana Aksi)

Bapak Budi (KS): "Luar biasa. Anda telah memilih Think-Pair-Share. Sekarang, mari kita buat rencana aksinya. Langkah konkret pertama apa yang akan Anda lakukan untuk mengimplementasikan metode ini minggu depan?"

Ibu Rina (Guru): "Saya akan memilih topik materi yang tepat yang memicu perdebatan kecil, lalu saya akan mempersiapkan lembar panduan yang memuat pertanyaan pemicu untuk sesi Think (berpikir individu)."

Bapak Budi (KS): "Kapan Anda akan mempersiapkan lembar panduan itu?"

Ibu Rina (Guru): "Saya akan menyelesaikannya Besok sore, setelah jam mengajar."

Bapak Budi (KS): "Baik. Dan apa yang bisa saya lakukan sebagai Kepala Sekolah untuk mendukung Anda dalam pelaksanaan Think-Pair-Share ini?"

Ibu Rina (Guru): "Mungkin saya bisa minta Bapak untuk mengobservasi kelas saya minggu depan fokus pada bagaimana siswa yang pasif merespons metode baru ini, dan berikan umpan balik spesifik tentang itu."

Bapak Budi (KS): "Siap. Saya akan jadwalkan observasi untuk hari X, dan kita akan bertemu lagi untuk coaching pasca-observasi. Selamat berproses, Bu Rina!"

 

Simulasi ini menunjukkan bagaimana Kepala Sekolah tidak memberikan instruksi, tetapi mengajukan pertanyaan kuat yang membuat Guru (Ibu Rina) menganalisis masalah, menemukan solusi, dan berkomitmen pada rencana aksi mereka sendiri.

Demikian semoga bermanfaat!

Selasa, 25 November 2025

Mencari Kesempurnaan dalam Ketidaksempurnaan

 


Hari Guru Nasional kembali menyapa. Di tengah sorak-sorai dan ucapan selamat, saya berdiri di depan cermin, bukan mencari pantulan sosok pahlawan tanpa tanda jasa yang diagungkan, melainkan seorang individu yang masih bergumul dengan label "guru yang  hebat."

Mungkin, idealnya, seorang guru adalah mercusuar yang sinarnya tak pernah goyah, gudang ilmu yang tak pernah kering, atau figur bijaksana yang selalu memiliki jawaban sempurna. Namun, di Hari Guru tahun 2025 ini, saya harus jujur: saya belum sempurna.

Kekurangan yang Menjadi Pengingat

  1. Setiap tatapan mata polos yang menanti penjelasan, setiap tangan kecil yang terangkat meminta bimbingan, seolah-olah memperjelas celah-celah dalam diri saya.
  2. Saya bukan ensiklopedia berjalan. Ada kalanya saya harus jeda, mengakui, "Mari kita cari jawabannya bersama,"Pengakuan yang terasa seperti kegagalan di tengah tuntutan untuk tahu segalanya.
  3. Saya masih belajar tentang empati yang sesungguhnya. Terkadang, kelelahan membuat nada suara saya meninggi, ketidaksabaran menyeruak saat harus mengulang materi untuk kesekian kalinya, dan saya khawatir itu melukai semangat belajar mereka.
  4. Rencana pelajaran saya tidak selalu berhasil. Beberapa eksperimen gagal menciptakan percikan "Aha!" yang saya harapkan. Beberapa diskusi menjadi kering, dan saya menyalahkan diri sendiri karena belum menemukan kunci ajaib untuk setiap jenis pikiran.
Setiap ketidaksempurnaan ini bukan hanya kekurangan, melainkan sebuah pengingat yang menyakitkan bahwa perjalanan menjadi guru adalah sebuah proses, bukan tujuan yang telah tercapai. Rasa syukur bercampur dengan rasa rendah hati yang dalam.


Sebuah Permohonan yang Tulus

Di hari menjadi perayaan ini, doa saya adalah sebuah permohonan yang tulus, ditujukan kepada mereka yang menjadi alasan saya berdiri di sini: para murid saya.

Wahai anak-anakku tersayang!

Saya harap, di tengah kekurangan saya, kalian bisa menemukan inti dari apa yang coba saya berikan. Saya harap kalian dapat menerima saya sebagai pendidik yang otentik, yang juga manusia biasa, yang masih berjuang untuk menjadi versi terbaik dirinya.

Terimalah pelajaran yang saya berikan dengan segala keterbatasannya. Ambillah ilmu yang relevan, tinggalkan cara penyampaian yang kurang pas. Lihatlah pada upaya yang tulus, bukan pada kesempurnaan performa.


Harapan yang Melampaui Ruang Kelas

Pada akhirnya, refleksi ini bermuara pada satu harapan tunggal yang melampaui segala capaian kurikulum atau angka rapor:

Saya berharap kalian memiliki kehidupan yang lebih baik.

Saya tidak berambisi untuk menciptakan miniatur dari diri saya; saya ingin kalian menjadi versi yang lebih besar, lebih berani, dan lebih bahagia dari apa pun yang pernah saya bayangkan.

  1. Semoga kalian menemukan kekuatan untuk mengejar impian tanpa ragu.
  2. Semoga kalian memiliki kebijaksanaan untuk membedakan antara yang benar dan yang mudah.
  3. Semoga kalian menemukan kedamaian di hati dan kehangatan di rumah kalian.
  4. Semoga kalian sukses tidak hanya dalam karir, tetapi dalam kualitas hidup, dalam cinta, dan dalam kemanusiaan.

Jika suatu saat nanti, kalian mengingat guru yang belum sempurna ini, saya harap kenangan itu adalah kenangan tentang seseorang yang, meskipun sering tersandung, selalu berdiri kembali untuk menunjukkan bahwa belajar dan berkembang adalah perjalanan seumur hidup, sebuah perjalanan yang tak pernah berakhir, bahkan bagi seorang guru.

Selamat Hari Guru Nasional 2025. Semoga semangat belajar kita, baik murid maupun guru, tak pernah padam.


Twibbonze HGN dan HUT PGRI 80

Senin, 10 November 2025

Diklat Fungsional GTK dalam Rangka HUT PGRI Ke-80 dan HGN Tahun 2025

 




Membangkitkan Generasi Emas: Kisah Transformasi Guru di Leuwimunding

Tahun 2025 menjadi penanda penting bagi dunia pendidikan Indonesia. Di tengah gemuruh perayaan HUT PGRI Ke-80 dan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 , PGRI Cabang Kecamatan Leuwimunding menyadari satu kebenaran yang mendesak: untuk mencapai visi "Guru Bermutu Indonesia Maju", para pendidik harus bertransformasi.

Latar belakangnya begitu nyata dan menantang: data PISA 2022 menunjukkan bahwa 99% murid Indonesia masih berkutat pada tingkat berpikir rendah (LOTS), sementara hanya 1% yang mencapai kecakapan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Inilah panggilan darurat untuk melakukan pergeseran pedagogi guna mempersiapkan Visi Indonesia 2045.

Menjawab tantangan tersebut, PGRI Cabang Kecamatan Leuwimunding meluncurkan sebuah inisiatif strategis: Diklat Fungsional Guru Pembelajaran Mendalam. Ini bukanlah sekadar agenda rutin, melainkan investasi strategis dalam membangun fondasi pendidikan masa depan.

Pelaksanaan dan Target 

Diklat ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, 17 hingga 19 November 2026 , bertempat di SDN Ciparay I. Seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan dari jenjang Kober hingga SMA/SMK/MA di wilayah Leuwimunding, dengan target estimasi 150-200 orang, diundang untuk ambil bagian dalam transformasi ini.

Tujuan utamanya:

  • Meningkatkan pemahaman guru tentang konsep Pembelajaran Mendalam (PM), sebuah pendekatan holistik yang memuliakan dan menekankan proses belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, hati, rasa, dan raga.
  • Menguatkan kemampuan guru dalam menerapkan tiga prinsip dasar PM.
  • Menguasai Kerangka Pembelajaran PM, yang meliputi Praktik Pedagogis, Kemitraan Pembelajaran, Lingkungan Pembelajaran, dan Pemanfaatan Digital.

Target capaian (Output) dari diklat ini adalah setiap peserta mampu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Modul Ajar yang mengintegrasikan prinsip-prinsip PM dan berfokus pada pengembangan Delapan Dimensi Profil Lulusan (Keimanan, Kewargaan, Kreativitas, Penalaran Kritis, Kolaborasi, Kemandirian, Kesehatan, Komunikasi).

Tokoh di Balik Transformasi

Di balik kegiatan monumental ini berdiri tim pelaksana yang diketuai oleh Jamat Agus Suganda, S.Pd., M.M.Pd., yang juga merupakan Ketua PGRI Cabang. Sementara itu, Endung, S.Pd. berperan ganda sebagai Steering Committee (SC) pengarah substansi dan program, serta sebagai Sekretaris Pelaksana.

Para peserta akan dibimbing oleh narasumber utama, termasuk Dr. Diah Gusrayani, M.Pd. dari UPI Kampus Sumedang, seorang pakar yang akan mendalami Konsep, Kerangka, dan Prinsip PM dan Hanikah, M.Pd (Dosen UMC). Peserta  juga akan mendapatkan arahan kebijakan dari Kepala Dinas Pendidikan dan Pengurus PGRI Kabupaten Majalengka.

keberhasilan diklat ini akan menjadi tolok ukur komitmen PGRI Cabang Kecamatan Leuwimunding dalam mengemban amanah profesionalisme guru. Harapannya, para guru dapat bertransformasi menjadi Aktivator, Kolaborator, dan Pengembang Budaya Belajar yang suportif.

Ini adalah ikhtiar kolektif yang didukung penuh oleh berbagai pihak , dengan satu cita-cita tunggal: mengantarkan Indonesia MAJU melalui guru-guru yang BERMUTU. Dengan semangat Pembelajaran Mendalam, Leuwimunding bergerak maju, menanamkan benih-benih kecakapan abad ke-21 di setiap ruang kelas.

Tata Upacara Baru di Sekolah Tahun 2026

  Kabar penting bagi dunia pendidikan Indonesia. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, baru saja mengeluark...