Aroma khas antiseptik mengambang lekat di udara dingin lorong RSUD Dr. Moewardi, Solo. Di balik kaca jendela besar, hujan rintik belum juga reda membasahi aspal Jalan Kolonel Sutarto, menciptakan bunyi gemerisik yang konstan dan mengiris sepi.
"Mas Aryo?"
Panggilan lembut itu membuyarkan lamunan Aryo. Suster Nisa,
perawat yang sejak tadi berjaga di pos, menghampirinya sambil menyodorkan
segelas teh manis hangat. "Diminum dulu tehnya, Mas. Dari tadi saya
perhatikan Mas Aryo cuma duduk pucat di situ. Operasi jantung memang butuh
waktu."
Aryo menerima gelas plastik itu dengan kedua tangan yang
sedikit gemetar. "Terima kasih, Sus. Susah rasanya mau tenang. Sudah
hampir tiga jam Ibu di dalam sana."
"Berdoa saja, Mas. Tim dokter kita sedang melakukan
yang terbaik," ucap Suster Nisa dengan senyum menenangkan sebelum kembali
ke mejanya.
Aryo menatap permukaan teh yang beriak pelan akibat getaran
tangannya. Suara rintik hujan yang menabrak kaca seolah berdetak seirama dengan
jarum jam dinding. Pandangannya perlahan menembus rintik air, memutar kembali
memori minggu lalu. Lewat sambungan telepon, suara ibunya terdengar riang.
"Yo, kalau Ibu sudah sehat nanti, temani Ibu makan
selat Solo di warung Mbak Lies ya. Tiba-tiba kangen rasanya."
Mengingat kalimat itu, dada Aryo terasa sesak oleh rasa
bersalah. Tuntutan karir di Jakarta selama ini seolah menjadi dinding tebal
yang membuatnya abai, menyita waktu yang seharusnya ia habiskan bersama wanita
paruh baya itu.
Lampu merah bertanda 'OPERASI BERLANGSUNG' di atas pintu
ganda tiba-tiba padam. Jantung Aryo seakan berhenti berdetak sesaat. Pintu
perlahan terbuka, memunculkan Dokter Hendra yang berjalan gontai sambil
menurunkan masker medisnya hingga ke leher. Gurat kelelahan tercetak jelas di
bawah matanya.
Aryo langsung melompat berdiri. Kakinya yang terasa seperti
jeli dipaksanya melangkah maju menghampiri sang dokter.
"Dokter... bagaimana keadaan Ibu saya?" tanya
Aryo, suaranya parau dan tertahan di tenggorokan. Suara bising hujan di luar
mendadak lenyap tertelan keheningan yang mencekam saat Dokter Hendra menatapnya
dalam diam selama beberapa detik.
Ketegangan itu akhirnya runtuh saat garis wajah sang dokter
perlahan mengendur, digantikan oleh senyuman melegakan.
"Syukurlah, Mas Aryo. Operasinya berjalan lancar,"
ucap Dokter Hendra sambil menepuk pelan bahu pemuda itu. "Ibu sudah
melewati masa kritis dan kondisinya stabil. Sekarang sedang kami siapkan untuk
dipindah ke ruang observasi sebelum ke ruang pemulihan."
Bahu Aryo merosot seketika. Tubuhnya yang tegang kini terasa
seringan kapas. Air mata menggenang dan jatuh begitu saja membasahi
pipinya—luapan kelegaan yang tak terbendung. Jemarinya bergetar saat ia
mengusap wajahnya.
"Alhamdulillah... Ya Allah. Terima kasih banyak,
Dokter. Terima kasih."
"Sama-sama. Ibu Anda orang yang kuat. Nanti kalau sudah
dipindahkan, Mas Aryo boleh masuk sebentar melihat beliau," tambah sang
dokter sebelum permisi berlalu menyusuri lorong.
Aryo menghela napas panjang yang sedari tadi tanpa sadar ia
tahan. Ia kembali ke kursi tunggunya dan menoleh lagi ke arah luar jendela.
Ajaib, hujan rintik yang setengah jam lalu terasa begitu muram, kini terlihat
layaknya tarian air yang membersihkan kota Solo dari duka. Langit sore yang
kelabu tak lagi terasa berat. Di dalam hatinya, Aryo mengikat sebuah janji. Ia
akan menelepon atasannya malam ini juga untuk memperpanjang cuti. Besok lusa,
saat ibunya sudah sadar penuh dan diizinkan makan, seporsi selat Solo terenak
pasti sudah tersaji di meja perawatannya.
Dua hari berselang, suasana muram di rumah sakit seolah ikut
tersapu bersih oleh hujan. Sinar matahari pagi mengintip malu-malu dari balik
tirai kamar perawatan, membawa kehangatan yang menjalar pelan ke sudut-sudut
ruangan bercat putih itu.
Di atas meja nakas, Aryo tengah sibuk membuka bungkusan
makanan. Aroma khas kuah kecap yang gurih, berpadu dengan jejak pala dan
merica, perlahan menguar memenuhi udara.
"Wanginya sampai ke mimpi Ibu, Yo," kelakar sebuah
suara parau namun sarat kehangatan dari arah ranjang.
Aryo menoleh, senyumnya seketika mengembang. Ia bergegas
mendekat, membantu menaikkan perlahan sandaran tempat tidur ibunya agar wanita
paruh baya itu bisa duduk menyandar dengan nyaman. Wajah sang ibu memang masih
pucat, dan selang infus masih menancap di punggung tangannya, namun binar
kehidupan di matanya sudah kembali benderang.
"Sesuai janji, Bu. Selat Solo warung Mbak Lies, pesanan
khusus buat pasien VIP Aryo," ucap pemuda itu seraya meraih mangkuk yang
kini berisi potongan daging sapi, telur pindang, buncis, wortel, dan kentang
goreng yang disiram kuah cokelat pekat.Ibunya terkekeh pelan. "Kamu ini,
Ibu kan baru selesai operasi, masa langsung dikasih makan enak begini? Dokter
Hendra mengizinkan, toh?"
"Sudah, Bu. Kemarin Aryo sudah tanya ke Suster Nisa dan
Dokter Hendra. Katanya boleh, asal dagingnya dipotong kecil-kecil dan sayurnya
dikunyah sampai halus," terang Aryo. Ia menyendok sedikit kuah beserta
irisan wortel dan kentang, meniupnya pelan, lalu menyodorkannya ke mulut sang
ibu. "Ayo, buka mulutnya, Bu."
Sang ibu menerima suapan itu perlahan. Matanya terpejam
sejenak, meresapi rasa manis dan gurih yang menari di lidahnya, menghapus
hambar lidah khas orang sakit.
"Bagaimana, Bu? Masih seenak dulu?" tanya Aryo
lembut.
Ibunya mengangguk pelan sambil tersenyum menatap putranya.
Tangan kirinya yang bebas dari selang infus terulur, menggenggam pergelangan
tangan Aryo yang sedang memegang sendok.
"Enak banget, Le. Tapi yang bikin paling enak itu
karena yang menyuapi anak mbarep Ibu," ucapnya lirih. Matanya sedikit
berkaca-kaca. "Terima kasih ya, Yo. Kamu sampai repot-repot ambil cuti
panjang demi merawat Ibu di sini. Kerjaanmu di Jakarta bagaimana?"
Mendengar itu, tenggorokan Aryo mendadak tercekat. Ia
meletakkan mangkuk itu kembali ke nakas, lalu membalas genggaman tangan ibunya
dengan kedua tangannya.
"Ibu nggak usah mikirin kerjaan Aryo. Bos di kantor
sudah kasih izin, kok," jawab Aryo, berusaha menjaga suaranya tetap
stabil. "Justru Aryo yang minta maaf, Bu. Selama ini Aryo terlalu sibuk,
jarang pulang ke Solo. Aryo kira mengirim uang saja cukup, ternyata Aryo
salah."
Sang ibu menggeleng pelan, mengusap punggung tangan Aryo
dengan ibu jarinya. "Ibu ngerti, Yo. Namanya juga anak laki-laki merantau,
pasti sibuk mengejar masa depan.""Mulai sekarang, Aryo usahakan akan
lebih sering pulang, Bu," janji Aryo sungguh-sungguh, menatap lurus ke
mata ibunya. "Pekerjaan dan uang bisa dicari kapan saja, tapi Ibu cuma
satu."
Senyum sang ibu merekah, lebih cerah dari sinar mentari yang
menembus kaca jendela pagi itu. Ia menepuk pelan tangan putranya. "Ya
sudah, janji ya. Sekarang, suapi Ibu lagi. Lama-lama dingin selatnya."
Aryo tertawa kecil, mengusap sudut matanya yang diam-diam
berair, lalu kembali meraih mangkuk di atas nakas. Pagi itu, diiringi denting
pelan sendok dan mangkuk, seporsi selat Solo tak sekadar menjadi pelunas rindu.
Makanan itu menjadi saksi bisu tentang waktu yang akhirnya kembali dimenangkan
oleh keluarga, dan tentang harapan yang mekar usai hujan mereda.
RuangRindu,100326
.png)




