Mengenai Saya

Foto saya
Semua orang bisa menjadi Guru dan semua orang bisa menjadi Murid.

Selasa, 10 Maret 2026

Rinai Harapan Seporsi Selat Solo

 


Aroma khas antiseptik mengambang lekat di udara dingin lorong RSUD Dr. Moewardi, Solo. Di balik kaca jendela besar, hujan rintik belum juga reda membasahi aspal Jalan Kolonel Sutarto, menciptakan bunyi gemerisik yang konstan dan mengiris sepi.

"Mas Aryo?"

Panggilan lembut itu membuyarkan lamunan Aryo. Suster Nisa, perawat yang sejak tadi berjaga di pos, menghampirinya sambil menyodorkan segelas teh manis hangat. "Diminum dulu tehnya, Mas. Dari tadi saya perhatikan Mas Aryo cuma duduk pucat di situ. Operasi jantung memang butuh waktu."

Aryo menerima gelas plastik itu dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. "Terima kasih, Sus. Susah rasanya mau tenang. Sudah hampir tiga jam Ibu di dalam sana."

"Berdoa saja, Mas. Tim dokter kita sedang melakukan yang terbaik," ucap Suster Nisa dengan senyum menenangkan sebelum kembali ke mejanya.

Aryo menatap permukaan teh yang beriak pelan akibat getaran tangannya. Suara rintik hujan yang menabrak kaca seolah berdetak seirama dengan jarum jam dinding. Pandangannya perlahan menembus rintik air, memutar kembali memori minggu lalu. Lewat sambungan telepon, suara ibunya terdengar riang.

"Yo, kalau Ibu sudah sehat nanti, temani Ibu makan selat Solo di warung Mbak Lies ya. Tiba-tiba kangen rasanya."

Mengingat kalimat itu, dada Aryo terasa sesak oleh rasa bersalah. Tuntutan karir di Jakarta selama ini seolah menjadi dinding tebal yang membuatnya abai, menyita waktu yang seharusnya ia habiskan bersama wanita paruh baya itu.

Lampu merah bertanda 'OPERASI BERLANGSUNG' di atas pintu ganda tiba-tiba padam. Jantung Aryo seakan berhenti berdetak sesaat. Pintu perlahan terbuka, memunculkan Dokter Hendra yang berjalan gontai sambil menurunkan masker medisnya hingga ke leher. Gurat kelelahan tercetak jelas di bawah matanya.

Aryo langsung melompat berdiri. Kakinya yang terasa seperti jeli dipaksanya melangkah maju menghampiri sang dokter.

"Dokter... bagaimana keadaan Ibu saya?" tanya Aryo, suaranya parau dan tertahan di tenggorokan. Suara bising hujan di luar mendadak lenyap tertelan keheningan yang mencekam saat Dokter Hendra menatapnya dalam diam selama beberapa detik.

Ketegangan itu akhirnya runtuh saat garis wajah sang dokter perlahan mengendur, digantikan oleh senyuman melegakan.

"Syukurlah, Mas Aryo. Operasinya berjalan lancar," ucap Dokter Hendra sambil menepuk pelan bahu pemuda itu. "Ibu sudah melewati masa kritis dan kondisinya stabil. Sekarang sedang kami siapkan untuk dipindah ke ruang observasi sebelum ke ruang pemulihan."

 

Bahu Aryo merosot seketika. Tubuhnya yang tegang kini terasa seringan kapas. Air mata menggenang dan jatuh begitu saja membasahi pipinya—luapan kelegaan yang tak terbendung. Jemarinya bergetar saat ia mengusap wajahnya.

"Alhamdulillah... Ya Allah. Terima kasih banyak, Dokter. Terima kasih."

"Sama-sama. Ibu Anda orang yang kuat. Nanti kalau sudah dipindahkan, Mas Aryo boleh masuk sebentar melihat beliau," tambah sang dokter sebelum permisi berlalu menyusuri lorong.

Aryo menghela napas panjang yang sedari tadi tanpa sadar ia tahan. Ia kembali ke kursi tunggunya dan menoleh lagi ke arah luar jendela. Ajaib, hujan rintik yang setengah jam lalu terasa begitu muram, kini terlihat layaknya tarian air yang membersihkan kota Solo dari duka. Langit sore yang kelabu tak lagi terasa berat. Di dalam hatinya, Aryo mengikat sebuah janji. Ia akan menelepon atasannya malam ini juga untuk memperpanjang cuti. Besok lusa, saat ibunya sudah sadar penuh dan diizinkan makan, seporsi selat Solo terenak pasti sudah tersaji di meja perawatannya.

Dua hari berselang, suasana muram di rumah sakit seolah ikut tersapu bersih oleh hujan. Sinar matahari pagi mengintip malu-malu dari balik tirai kamar perawatan, membawa kehangatan yang menjalar pelan ke sudut-sudut ruangan bercat putih itu.

Di atas meja nakas, Aryo tengah sibuk membuka bungkusan makanan. Aroma khas kuah kecap yang gurih, berpadu dengan jejak pala dan merica, perlahan menguar memenuhi udara.

"Wanginya sampai ke mimpi Ibu, Yo," kelakar sebuah suara parau namun sarat kehangatan dari arah ranjang.

Aryo menoleh, senyumnya seketika mengembang. Ia bergegas mendekat, membantu menaikkan perlahan sandaran tempat tidur ibunya agar wanita paruh baya itu bisa duduk menyandar dengan nyaman. Wajah sang ibu memang masih pucat, dan selang infus masih menancap di punggung tangannya, namun binar kehidupan di matanya sudah kembali benderang.

"Sesuai janji, Bu. Selat Solo warung Mbak Lies, pesanan khusus buat pasien VIP Aryo," ucap pemuda itu seraya meraih mangkuk yang kini berisi potongan daging sapi, telur pindang, buncis, wortel, dan kentang goreng yang disiram kuah cokelat pekat.Ibunya terkekeh pelan. "Kamu ini, Ibu kan baru selesai operasi, masa langsung dikasih makan enak begini? Dokter Hendra mengizinkan, toh?"

"Sudah, Bu. Kemarin Aryo sudah tanya ke Suster Nisa dan Dokter Hendra. Katanya boleh, asal dagingnya dipotong kecil-kecil dan sayurnya dikunyah sampai halus," terang Aryo. Ia menyendok sedikit kuah beserta irisan wortel dan kentang, meniupnya pelan, lalu menyodorkannya ke mulut sang ibu. "Ayo, buka mulutnya, Bu."

Sang ibu menerima suapan itu perlahan. Matanya terpejam sejenak, meresapi rasa manis dan gurih yang menari di lidahnya, menghapus hambar lidah khas orang sakit.

"Bagaimana, Bu? Masih seenak dulu?" tanya Aryo lembut.

Ibunya mengangguk pelan sambil tersenyum menatap putranya. Tangan kirinya yang bebas dari selang infus terulur, menggenggam pergelangan tangan Aryo yang sedang memegang sendok.

"Enak banget, Le. Tapi yang bikin paling enak itu karena yang menyuapi anak mbarep Ibu," ucapnya lirih. Matanya sedikit berkaca-kaca. "Terima kasih ya, Yo. Kamu sampai repot-repot ambil cuti panjang demi merawat Ibu di sini. Kerjaanmu di Jakarta bagaimana?"

 

Mendengar itu, tenggorokan Aryo mendadak tercekat. Ia meletakkan mangkuk itu kembali ke nakas, lalu membalas genggaman tangan ibunya dengan kedua tangannya.

"Ibu nggak usah mikirin kerjaan Aryo. Bos di kantor sudah kasih izin, kok," jawab Aryo, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. "Justru Aryo yang minta maaf, Bu. Selama ini Aryo terlalu sibuk, jarang pulang ke Solo. Aryo kira mengirim uang saja cukup, ternyata Aryo salah."

Sang ibu menggeleng pelan, mengusap punggung tangan Aryo dengan ibu jarinya. "Ibu ngerti, Yo. Namanya juga anak laki-laki merantau, pasti sibuk mengejar masa depan.""Mulai sekarang, Aryo usahakan akan lebih sering pulang, Bu," janji Aryo sungguh-sungguh, menatap lurus ke mata ibunya. "Pekerjaan dan uang bisa dicari kapan saja, tapi Ibu cuma satu."

Senyum sang ibu merekah, lebih cerah dari sinar mentari yang menembus kaca jendela pagi itu. Ia menepuk pelan tangan putranya. "Ya sudah, janji ya. Sekarang, suapi Ibu lagi. Lama-lama dingin selatnya."

Aryo tertawa kecil, mengusap sudut matanya yang diam-diam berair, lalu kembali meraih mangkuk di atas nakas. Pagi itu, diiringi denting pelan sendok dan mangkuk, seporsi selat Solo tak sekadar menjadi pelunas rindu. Makanan itu menjadi saksi bisu tentang waktu yang akhirnya kembali dimenangkan oleh keluarga, dan tentang harapan yang mekar usai hujan mereda.


RuangRindu,100326

Rinai Harapan Seporsi Selat Solo

  Aroma khas antiseptik mengambang lekat di udara dingin lorong RSUD Dr. Moewardi, Solo. Di balik kaca jendela besar, hujan rintik belum jug...